Tuesday, October 20, 2026
More

    PESPARANI II Kalbar, Serukan Persaudaraan dan Kerukunan dalam Keberagaman

    MajalahDUTA.Com | Pesta Paduan Suara Gerejani (PESPARANI) Katolik II Kalimantan Barat dibuka di Aula Magna, Gedung Pasifikus Bos, Pontianak, Jumat (16/10/2026). Perhelatan yang berlangsung pada 16–17 Oktober 2026 ini menjadi momentum bagi umat Katolik untuk memuliakan Tuhan sekaligus mempererat persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat Kalimantan Barat.

    Pembukaan dihadiri Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap, perwakilan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, anggota DPR RI, jajaran pemerintah daerah, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat, para imam, biarawan-biarawati, panitia, dewan juri, serta peserta dari sejumlah kabupaten dan kota.

    Gubernur Kalimantan Barat diwakili Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Barat, Heronimus Hero, S.P., M.Si., yang membacakan sambutan gubernur sekaligus membuka secara resmi PESPARANI Katolik II Kalimantan Barat Tahun 2026.

    Kegiatan ini mengusung tema “Pujilah Tuhan, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa” (Mazmur 117:1). Tema tersebut menegaskan bahwa pujian kepada Tuhan dapat menjadi ruang perjumpaan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap keberagaman.

    Sambutan Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap – Seremoni Pembukaan Pesparani II Kalbar (2026)

    Uskup: Pujian kepada Tuhan Harus Mempererat Persaudaraan

    Dalam sambutannya, Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap, mengajak peserta memahami PESPARANI melalui dua dimensi penting, yakni hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan antarmanusia.

    Menurutnya, dimensi pertama mengarah kepada Allah melalui pujian, syukur, dan peribadatan. Dimensi kedua terwujud dalam persaudaraan yang dibangun di antara seluruh peserta.

    “Kalau kedua aspek ini dipadukan, terciptalah satu salib,” ungkap Uskup Samuel, seraya menjelaskan bahwa kedua dimensi tersebut mencerminkan kehidupan Gereja Katolik yang setia memuliakan Allah sekaligus membangun persaudaraan dengan sesama.

    Dia menegaskan bahwa panggilan persaudaraan Gereja tidak terbatas pada umat Katolik atau sesama manusia, tetapi juga mencakup seluruh ciptaan. Semangat ini mengingatkan pada teladan Santo Fransiskus dari Assisi yang mengajak seluruh makhluk untuk memuji dan memuliakan Tuhan.

    Karena itu, PESPARANI tidak seharusnya dipandang hanya sebagai ajang kompetisi. Kegiatan ini merupakan kesempatan bagi umat dari berbagai daerah untuk hadir bersama, mewakili Gereja Katolik di wilayah masing-masing, dan mempersembahkan pujian kepada Tuhan.

    “Berlombalah dengan hati dan cinta,” pesannya kepada seluruh peserta.

    Uskup Samuel juga mengajak peserta memberikan penampilan terbaik dengan memanfaatkan kemampuan secara optimal, tanpa mengabaikan semangat persaudaraan. Dia berharap PESPARANI membawa dampak lebih luas, yakni tumbuhnya persaudaraan universal dan kepedulian terhadap seluruh ciptaan.

    Dia menyampaikan terima kasih kepada panitia tingkat provinsi dan kabupaten/kota, serta seluruh pihak yang telah bekerja mempersiapkan perhelatan tersebut.

    Heronimus Hero, SP., M.Si. sebagai Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Provinsi Kalimantan Barat

    Pemerintah: Keberagaman adalah Kekayaan yang Harus Dirawat

    Dalam sambutan Gubernur Kalimantan Barat yang dibacakan Heronimus Hero, pemerintah provinsi menyampaikan apresiasi kepada panitia, Gereja Katolik, pengurus Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesta Paduan Suara Gerejani Katolik (LP3KD), pemerintah kabupaten/kota, serta seluruh pihak yang mendukung penyelenggaraan PESPARANI.

    Gubernur menilai tema PESPARANI tahun ini relevan dengan kehidupan masyarakat Kalimantan Barat yang terdiri atas beragam suku, budaya, dan agama. Keberagaman tersebut merupakan kekayaan bersama yang perlu terus dirawat melalui sikap saling menghormati dan membangun kerukunan.

    Paduan suara, menurut pesan yang disampaikan dalam sambutan tersebut, memberikan gambaran tentang kehidupan bermasyarakat. Setiap jenis suara memiliki karakter berbeda, tetapi ketika dipadukan dengan baik, perbedaan itu menghasilkan harmoni.

    Pesan tersebut juga ditujukan kepada para peserta agar menjadikan setiap penampilan sebagai persembahan yang tulus, disertai penghayatan, sportivitas, dan semangat persaudaraan.

    “Menang ataupun belum menang, pada intinya semua sama-sama sedang memuliakan Tuhan,” demikian pesan dalam sambutan gubernur.

    Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menyatakan dukungannya terhadap kegiatan keagamaan yang memperkuat iman, membangun karakter masyarakat, serta mempererat kerukunan. Heronimus Hero kemudian menyatakan PESPARANI Katolik II Kalimantan Barat Tahun 2026 resmi dibuka.

    Seremoni Pembukaan Pesparani II Kalbar- Kepala Kantor Wilayah Kementrian Agama Provinsi Kalimantan Barat, Dr. H. Muhajirin Yanis, M.Pd.I.

    Harmoni dalam Perbedaan

    Pesan serupa disampaikan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat, Dr. H. Muhajirin Yanis, M.Pd.I. Dia menegaskan bahwa perbedaan agama, suku, bahasa, dan tradisi bukan alasan untuk saling menjauh, melainkan kekayaan yang harus dirawat bersama.

    Menurutnya, paduan suara mengajarkan bahwa harmoni tidak mengharuskan semua orang menjadi sama. Harmoni justru lahir ketika setiap orang tetap memiliki identitasnya, tetapi bersedia berjalan bersama dalam kasih, penghormatan, dan persaudaraan.

    “PESPARANI adalah perayaan iman, ruang persaudaraan, dan panggung kerukunan,” tegasnya.

    Dia mengajak peserta menampilkan kemampuan terbaik dengan sukacita dan kerendahan hati. Prestasi tetap penting, tetapi jangan sampai mengorbankan persaudaraan. Kemenangan yang bermakna bukan hanya membawa pulang piala, melainkan juga pulang dengan iman yang semakin kuat, persahabatan yang semakin luas, dan semangat kerukunan yang semakin kokoh.

    Muhajirin berharap PESPARANI Katolik II Kalimantan Barat menjadi pesan bagi Indonesia bahwa keberagaman dapat dirawat dan perbedaan dapat dipersatukan ketika agama hadir membawa kasih serta kemanusiaan.

    Maskendari, S.P., M.Si – Sambutan Ketua Panitia Pesparani – Seremoni Pembukaan Pesparani II Kalbar

    Diikuti 444 Orang, Tiga Bidang Lomba Dipertandingkan

    Ketua Panitia, Maskendari, dalam laporannya menjelaskan bahwa penyelenggaraan PESPARANI Katolik II Kalimantan Barat merupakan bagian dari upaya pembinaan dan pengembangan musik serta nyanyian liturgi Katolik di daerah.

    Kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan pemahaman dan penghayatan terhadap liturgi, mengembangkan kualitas paduan suara, serta mendorong inkulturasi yang sesuai dengan ajaran Gereja Katolik.

    Menurut laporan panitia, PESPARANI berlangsung selama dua hari, 16–17 Oktober 2026, dengan lokasi kegiatan di Gereja Katedral Santo Yosef dan Gedung Pasifikus. Tiga bidang lomba yang dipertandingkan adalah Paduan Suara Dewasa Wanita, Paduan Suara Gregorian Dewasa Pria, dan Paduan Suara Orang Muda Katolik (OMK).

    Panitia melaporkan jumlah keseluruhan peserta dan ofisial mencapai 444 orang. Mereka berasal dari kontingen kabupaten dan kota di Kalimantan Barat, dengan tingkat partisipasi yang berbeda pada setiap kategori lomba.

    Penyelenggaraan PESPARANI juga menjadi bagian dari pembinaan berkelanjutan. Hasil perlombaan diharapkan membantu menentukan peserta terbaik yang akan mewakili Kalimantan Barat dalam PESPARANI Katolik Nasional IV di Sulawesi Utara pada November 2027.

    Maskendari mengingatkan bahwa tujuan utama kehadiran peserta bukan sekadar mengejar kesempatan tampil di tingkat nasional, melainkan memuji dan memuliakan Tuhan serta mengevaluasi pembinaan musik liturgi yang telah dilaksanakan di daerah masing-masing.

    Dia turut menyampaikan apresiasi kepada pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, Keuskupan Agung Pontianak, para pembina, dewan juri, dan seluruh pihak yang mendukung kegiatan tersebut. Dukungan berbagai pihak, menurutnya, merupakan wujud gotong royong dalam kehidupan menggereja.

    Ketua Umum LK3KD PROV Kalbar – Drs. Junaidi, M.M – Seremoni Pembukaan Pesparani II Kalbar

    PESPARANI sebagai Gerakan Pembinaan Iman

    Sementara itu, Ketua Umum LP3KD Provinsi Kalimantan Barat, Drs. Junaidi, M.M., menekankan pentingnya menjadikan PESPARANI sebagai bagian dari pembinaan iman dan pengembangan talenta umat secara berkelanjutan.

    Dia mengajak peserta menjaga sportivitas, menghormati proses penilaian, serta membawa semangat persaudaraan ke lingkungan masing-masing setelah kegiatan berakhir.

    PESPARANI, menurutnya, tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial atau perlombaan dua hari. Pembinaan paduan suara, pengembangan musik liturgi, peningkatan kapasitas pelatih, dan pelibatan generasi muda perlu terus dilakukan melalui kerja sama Gereja, pemerintah, LP3KD, dan masyarakat.

    Keberhasilan PESPARANI, dengan demikian, tidak hanya diukur dari kemeriahan acara atau jumlah penghargaan yang diraih. Hal yang lebih penting adalah perubahan positif dalam kehidupan umat, semakin kuatnya persaudaraan, serta meningkatnya semangat pelayanan kepada masyarakat.

    “Melalui PESPARANI Katolik II Kalimantan Barat, seni suara gerejani diharapkan menjadi sarana untuk memperdalam iman sekaligus memperkuat kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk,” katanya.

    Pada akhirnya, sebagaimana pesan yang mengemuka dalam seremoni pembukaan, setiap suara memiliki tempat dalam membangun harmoni. Perbedaan bukan penghalang untuk berjalan bersama, melainkan kesempatan untuk saling melengkapi dalam pujian kepada Tuhan, persaudaraan, dan pelayanan bagi sesama.*(Samuel)

    Related Articles

    spot_img
    spot_img
    spot_img

    Latest Articles