Sunday, May 19, 2024
More

    Pertanian Terpadu dan Berkelanjutan: Pilihan Pasca Covid-19

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Dalam suatu kunjungan ke pertanian sayur di Kabanjahe, Sumatra Utara, para petani disana berbagi pengalamannya kepada kami. Mereka merasa bahwa menjadi petani di sana terasa begitu susah. Petani sayur sangat bergantung pada pupuk kimia, pestisida, dan bibit unggul.

    Namun demikian hasil yang mereka dapatkan pun tidak seberapa. Berbagai jenis hasil panen seperti sawi, kol, tomat, kentang, wortel, terung mereka bawa ke pasar dan sebagian dikirim ke Riau, Jambi, Palembang, dan Jakarta. Mereka mengirim juga ke Singapura dan Malaysia. Harga sayuran tersebut relative murah.

    Risiko terbesar petani sayur adalah ketika hasil panen mereka cepat layu dan busuk. Hal ini menuntut mereka untuk gerak cepat dalam proses pengiriman, sehingga sayuran dapat sampai ke tangan konsumen dengan cepat. Tidak jarang mereka harus menanggung kerugian karena sayur yang terlanjur rusak harus dikirim balik dari Singapura dan Malaysia.

    BACA JUGA: http://jpicbrudermtb.org/pertanian-terpadu-dan-berkelanjutan-pilihan-pasca-pandemi-covid-19/

    “Kami merasa rugi, kerja keras dan pengorbanan kami sia-sia. Situasi dan keadaan demikian ini sudah lama mendera kami, dan kami hanya pasrah.” Keluh mereka. Pemerintah setempat kurang bahkan tidak mengatur dan memperbaiki system ini, sehingga terjadi manipulasi bahan dan harga pupuk, pestisida, dan bibit di antara para penjual. Para petani ini mengaku pernah mendapat pendampingan bertani secara organic dari Bruder Budi Mulia, namun tidak lama kemudian mereka kembali menggunakan pupuk dan pestisida kimia lagi.

    Pengalaman petani sayur di Kabanjahe ini membuat kami di JPIC bertanya-tanya, mengapa tanah yang luas dan subur ini tidak menjajikan ekonomi yang baik bagi mereka? Mengapa mereka tidak memilih bertani secara organic?

    Kondisi tanahnya sangat subur karena dekat gunung Sinabung, tetapi pilihannya menggunakan bahan kimia (pupuk dan pestisida) dan bibit unggul. Pilihan tersebut telah membuat mereka sangat tergantung pada bahan kimia, pestisida, dan bibit unggul. System pertanian tersebut telah menjerat mereka, sehingga hanya menuai susah dan derita.

    Bila dirunut lebih jauh, system pertanian itu merupakan warisan dari Orde Baru, yakni “revolusi hijau.” Gerakan revolusi hijau itu mengedepankan program Panca Usaha Tani yang terdiri dari, 1. Penggunaan bibit unggul, 2. Pemupukan, 3. Pemberantasan hama dan penyakit (pestisida), 4. Irigasi dan 5. Perbaikan dan memelihara bercocok tanam.

    Memang diakui bahwa gerakan revolusi hijau ini mencapai keberhasilan swasembada pangan di tahun 1984. Pada tahun itu,Indonesia pernah membantu beras untuk negara-negara yang berkekurangan baik di wilayah Asia maupun Afrika. Kejayaan itu tidak berkelanjutan, justru gerakan tersebut berdampak buruk yang mendatangkan malapetaka bagi Petani dan kerusakan lingkungan.

    Gerakan revolusi hijau tidak selalu menjadi symbol keberhasilan usaha tani. Gerakan ini tidak dikaji dan dipikirkan secara matang akan kelanjutan dari usaha tani, sehingga merugikan para petani dan lingkungan hidup. Petani didorong menggunakan bibit unggul padahal ada bibit local yang jauh lebih unggul. Karena tergiur akan hasil yang cepat dan banyak, petani akhirnya meninggalkan dan bahkan menghilangkan bibit.

    Para petani mulanya dibagi-dijatah pupuk dan pestisida kimia secara gratis. Lama kelamaan pupuk dan pestisida tersebut dijial dengan harga yang mahal, sehingga petani tidak mampu membelinya. Karena dimanjakan dengan bahan kimia, petani tidak ada pilihan lain, sementara bahan kimia tersebut menimbulkan ancaman serius tersebut terhadap lingkungan hidup, terhadap tanah, air, udara, tanaman, hewan, dan manusia.

    Kita tahu bahwa penggunaan bahan kimia (pestisida) dapat merusak ekositem lingkungan hidup. Tanah yang kerap kali diberi pupuk dan pestisida kimia menjadi keras, padat, terbelah dan akhirnya tandus  (hilang humus tanah) atau dengan istilah pemiskinan tanah menuju proses penggurunan. Binatang seperti cacing, semut, bakteri, belut, siput yang menggemburkan tanah tidak  bertahan hidup.

    Bahkan bukan hanya binatang yang ada di dalam tanah, diatas tanah pun menjauh atau mati juga. Bahan Kimia yang meresap ke dalam tanah ketika banjir mengalir ke sungai akan mencemari air, sehingga tidak layak lagi dikonsumsi oleh tanaman,hewan, dan manusia. Aroma-aroma khas bahan kimia (menjadi racun) membuat polusi udara.

    Segala macam sayur dan buah hasil bahan kimia tidak sehat dikonsumsi oleh manusia. Kita semua tahu akan dampak itu, tetapi belum mengubah cara bertani yang menciptakan mata rantai kehidupan yang saling menunjang kehidupan. Pilihan menggunakan bahan kimia dalam bertani telah memutuskan mata rantai kehidupan hayati.

    KUNJUNGI WEB: http://jpicbrudermtb.org/

    Pilihan bertani secara kimia telah merusak dan menyakiti ibu bumi rumah kita bersama. Tanah kian hari semakin memprihatikan karena pemiskinan tanah, hilangnya kesuburan dan dalam proses penggurunan. Air dan udara sudah dan sedang tercemar oleh bahan kimia. Tanaman dan tumbuhan local pun sudah langka dan hilang. Binatang-binatang liar kian hari kian langka kita jumpai.

    Mungkin suatu hari kita hanya akan tahu nama binatang-binatang itu, tanpa pernah tahu sosoknya karena punah oleh ulah manusia. Bahkan kita manusia abad ini menderita penyakit yang aneh-aneh. Dan kita digemparkan dengan sebuah virus yang mematikan virus corona disease (Covid-19).

    Semua orang cemas dan takut akhirnya hanya diam dirumah (stay at home). Ternyata tidak hanya ibu bumi, tetapi kita semua ikut merintih dan menangis. Apakah kita masih memilih menguunakan bahan kimia ataukah mencari alternative lain? Pengalaman pandemic Covid-19 ini mendorong kami memilih alternative lain. Kami JPIC Bruder MTB memilih pertanian terpadu dan berkelanjutan dengan mengedepankan system organic yang menciptakan kehidupan satu dengan yang lain. Bersambung…..

    Penulis: Br.Gerardus Weruin, MTB

    Related Articles

    Stay Connected

    1,800FansLike
    905FollowersFollow
    7,500SubscribersSubscribe

    Latest Articles